Pengertian Mazhab

Apa itu Mazhab ? Pengertian Mazhab bisa dibagi 2. Ada arti menurut bahasa, ada arti menurut istilah. Berdasarkan bahasa atau dilihat dari kosa kata, mazhab merupakan bentuk isim makan dari kata “dzahaba”, artinya jalan atau tempat yang dilalui, sedangkan menurut istilah ulama ahli fiqih, mazhab adalah mengikuti sesuatu yang dipercayai.

Lebih lengkapnya pengertian mazhab menurut fiqih adalah hasil ijtihad seorang imam (mujtahid) tentang hukum sesuatu masalah yang belum ditegaskan oleh nash. Jadi, masalah yang bisa menggunakan metode ijtihad ini adalah yang termasuk kategori dzonni atau prasangka, bukan hal yang qoth’i atau pasti. Jadi tidak benar kalau ada istilah hukum shalat 5 waktu adalah wajib menurut mazhab Syafi’i, karena hukum shalat wajib termasuk kategori qoth’i yang tidak bisa dibantah wajibnya oleh mazhab manapun. Berbeda jika masalah yang dihadapi tentang hal-hal yang asalnya masih samar seperti hukum menyentuh kulit wanita yang bukan muhrim. Karena perbedaan pandangan itulah, maka terjadi perbedaan pendapat antara Imam Syafi’i, Imam Hanafi dan Imam lainnya. Hasilnya dinamakan ijtihad Imam Syafi’i yang pasti berbeda dengan ijtihad Imam Hanafi dan Imam lainnya yang menentukan batal atau tidaknya wudhu ketika menyentuh wanita muhrim.

Nah, bagi seorang yang mampu berijtihad dalam menghadapi suatu masalah, maka dia boleh berijtihad dan melaksanakan hasil ijtihad yang ia lakukan, sedangkan bagi mereka yang tidak mampu melakukanijtihad atau orang awam, maka ia harus mengikuti hasil ijtihad dari salah seorang mujtahid yang ia percayai. Hal ini sejalan dengan Al Qura’an surat An-Nahl ayat 42 43, yang artinya “Bertanyalah kepada ahli dzikri/ulama jika kamu tidak mengerti”.

Menurut Abu Hasan Alkayya, bermazhab ini hukumnya wajib bagi :
1. Orang awam
2. Ulama/ahli fiqih yang belum mencapai derajat mujtahid.

Mengapa bermazhab itu wajib ? Karena jika diperbolehkan untuk tidak bermazhab atau bermazhab tapi mengambil mazhab sana sini (talfiq), maka pasti kaum muslimin akan mengambil aturan-aturan yang ringan dan mudah saja dan hal ini akan membawa akibat lepasnya tuntutan taklif.




Tag : Mazhab
10 Komentar untuk "Pengertian Mazhab"

mau gue copy ahhh...

udh ane share ke Fb ane,,

Syukron,,

Terima kasih atas sharenya, semoga jadi amal.

Asslamu'alaikum. Mas,Mohon untuk cek kembali..SEpertinya bukan An Nahl 42 tetapi 43 sepertinya. Terimakasih.
Wassalamu'alaikum.

Terima kasih, Saya senang dikoreksi dan diingatkan dari ketidakhatia-hatian Saya oleh para pembaca setia blog ini. Semoga bisa jadi amal.

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُه

Apa pendapat Antum tentang tulisan ini...
http://aktivis-dakwah.blogspot.com/2013/04/bagaimana-hukum-mengikuti-banyak-mazhab.html?m=1
Terima kasih atas perhatiaannya...

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Dari artikel pada alamat blog yang Anda berikan, Saya menggaris bawahi tulisan terakhir (ini kesimpulan beliau), yang berbunyi : Ana juga ingin mempertegas bahwa,"Dibolehkan untuk mengambil pendapat dari Imam Mazhab tertentu dalam suatu masalah tertentu, dan mengambil pendapat Imam Mazhab yang lain dalam masalah yang lainnya.". Saya setuju tapi dengan syarat bahwa mengambil pendapat tersebut tidak dalam satu masalah tertentu yang saling berkaitan, tapi harus berlainan masalah. Misalnya, Kita shalat mengikuti Mazhab Syafi'i, namun wudunya mengikuti Mazhab Maliki, padahal antara shalat dan wudhu saling berkaitan, ini yang Saya maksud pengambilan/pencampuran pendapat dari beberapa mazhab (talfiq), namun jika masalahnya berlainan seperti shalat ikut mazhab Syafi'i, ilmu mawaris ikut mazhab hambali, itu kan berlainan masalah, dan ini bukan talfiq. Namun masalahnya, untuk mempelajari berbagai mazhab dibutuhkan waktu yang lama dan tidak semua umat muslim kondisi kadar kemampuannya sama, sehingga para ulama memberikan kesimpulan untuk menganjurkan ada dalam satu mazhab saja terlebih dahulu, terutama bagi mubtadi/pemula, kecuali kalau memang sudah mampu untuk menelaah berbagi mazhab. Wallahu a'lam.

assalamu'alaikum...
Adakah petunjuk hadist bahwa kita tidak boleh mencampur pendapat semua mazhab dalam satu masalah (TALFIQ).
Bukankah imam syafi',imam maliki,imam hambali dan imam hanafi adalah para ulama besar,yg mana pendapat2 mareka berdasarkan al quran dan al hadist meskipun beda dalam menafsiran al quran dan hadist

Untuk mengetahui seluk beluk masalah talfiq, silahkan baca di blog sahabat saya di sini atau di sini.

Back To Top